3 Cara Mengawetkan Kulit Ular

3 Cara Mengawetkan Kulit Ular

Proses pengolahan yang terbaik untuk hewan biasanya dinamakan penyamakan kulit. Proses ini bisa dilakukan secara tradisional maupun modern seperti menggunakan mesin produksi. Penyamakan kulit ini bisa dilakukan sebelum cara mengawetkan kulit ular, sapi, bahkan kambing.

Sedangkan untuk mengawetkan kulit sendiri ada tahapan dan caranya tersendiri. Oleh sebab itu, Anda juga harus mengerti bagaimana proses untuk penyamakan kulit serta pengawetannya.

Cara Penyamakan Kulit Ular

Penyamakan merupakan cara untuk mengubah kulit mentah hewan menjadi kulit yang sudah disamak atau nantinya menjadi bahan leather. Hal ini dilakukan untuk mengawetkan kulit agar yang tadinya mudah rusak akan tidak rusak lagi.

Setelah dilakukan penyamakan maka akan memiliki sifat yang berbeda dengan kulit mentah. Jika kulit mentah biasanya mudah membusuk, berbeda dengan kulit penyamakan yang awet serta mudah dibentuk menjadi kerajinan seperti tas, jaket, sabuk, dompet, dan lainnya.

Tak hanya itu, jika kulit sudah disamak maka akan terbebas dari serangan mikroorganisme. Prinsip mekanisme dari proses ini adalah memasukkan bahan penyamak ke dalam jaringan serat kulit yang nantinya akan mengikat kimia antara bahan dan kulit yang terkandung dalam serta kulit.

Prosesnya sendiri terbagi menjadi dua yaitu berbulu dan tidak berbulu. Jika proses berbulu maka akan mempertahankan kualitas bulu dan berbeda jika tidak berbulu maka prosesnya menghilangkan bulu. Jika untuk hewan ular maka menggunakan proses tidak berbulu.

Selain proses di atas, terdapat tiga tahapan pokok yang terdapat pada industri penyamakan ini, yaitu : 

1. Pengerjaan Basah

Pengerjaan Basah

Pengerjaan basah atau yang dikenal sebagai pre tanning ini bertujuan untuk mengawetkan kulit yang tadinya mentah agar bertahan hingga penyamakan lanjutan dilakukan. Proses yang dilakukan dalam pre tanning ini yaitu:

  • Perendaman (soaking), dilakukan untuk mengubah kondisi kulit kering menjadi lunak dan lemas agar mudah dibentuk.
  • Pengapuran (liming), dilakukan untuk menghilangkan bulu serta epidermis, kelenjar keringat serta lemak, serta melepaskan zat-zat yang tidak diperlukan, dan beberapa proses lainnya.
  • Pembuangan kapur (deliming), yaitu untuk menghilangkan kapur yang terdapat dalam kulit karena dalam penyamakan membutuhkan kondisi asam sehingga harus menghilangkan basa dari kapur.
  • Bating (baitusen), yaitu untuk menghilangkan zat-zat non kolagen yang ada di kulit ular.
  • Pengasaman (pickling), yaitu agar kulit memiliki sifat asam dalam pH 3,0 hingga 3,5, dilakukan agar kulit tidak bengkak saat diberikan obat penyamakan.

2. Penyamakan

Cara Penyamakan Kulit Ular

Penyamakan atau yang sering disebut dengan tanning ini merupakan proses kulit pickle yang dilakukan perendaman dalam bahan penyamak. Penyamakan ini terdiri dari proses nabati, krom, kombinasi, serta sintesis. Tahapan tersebut pastinya disesuaikan dengan jenis kulit.

Jenis kulit sendiri dibagi menjadi dua yaitu hide untuk golongan hewan besar sedangkan skin untuk kulit hewan kecil maupun reptilia. Jika Anda ingin menyamak kulit ular maka bisa menggunakan proses skin.

Untuk penyamakan atau tanning nabati ini akan memberikan warna seperti coklat muda maupun kemerahan dengan sifat agak kaku namun masih empuk serta kurang tahan terhadap panas. 

Sedangkan untuk penyamak mineral biasanya menggunakan krom sehingga menghasilkan kulit lebih lembut atau lemas dan keuntungan lainnya lebih tahan terhadap panas. Anda bisa menyesuaikan ingin menggunakan proses penyamakan yang mana.

3. Penyelesaian Akhir

Penyelesaian Akhir

Proses selanjutnya yaitu finishing atau penyelesaian akhir. Proses ini harus melewati berbagai macam tahapan yang harus dilalui agar mendapatkan kualitas yang bagus. Beberapa langkah pada finishing ini yaitu:

  • Pengamatan, dilakukan untuk memiliki ketebalan kulit yang sama untuk produk Anda.
  • Penucatan, yaitu proses yang menghilangkan flek-flek besi, merendahkan pH, kemudian menguatkan bahan dengan kulit pada saat disamak.
  • Penetralan, untuk kulit samak krom yang memiliki kadar asam tinggi agar tidak mengganggu proses pengawetan kulit ular.
  • Pengecatan dasar untuk memakaikan cat tutup agar tidak terlalu tebal.
  • Perminyakan pada kulit untuk melumaskan serat-serat kulit sehingga tahan tarik dan getar untuk menjaga serta kulit sehingga tidak lengket satu sama lainnya serta dapat membuat kulit tahan terhadap air.
  • Penggemukan, yang biasa dilakukan untuk menahan zat penyamak agar tidak keluar ke permukaan sebelum kering. 
  • Pengeringan yang dilakukan pada bagian kulit atas sehingga menghentikan proses kimiawi dalam kulit ular. Kulit diperas airnya bisa menggunakan tangan atau mesin kemudian dikeringkan.
  • Pelembaban untuk kulit bagian bawah agar kulit mudah menyesuaikan dengan kondisi udara di sekitarnya.
  • Peregangan, biasanya untuk kulit mulur agar maksimal sehingga tidak akan merenggang saat sudah menjadi produk barang kesayangan Anda.

Cara Mengawetkan Kulit Ular Untuk Kerajinan

Cara Mengawetkan Kulit Ular untuk Kerajinan

Para pengrajin biasanya akan memiliki cara tersendiri untuk melakukan pengawetan kulit ular. Hal ini pastinya dilakukan untuk mendapatkan hasil yang tahan lama serta kualitasnya tetap terjaga dengan baik.

Jika Anda sebagai pengrajin maka bisa menggunakan cara mengawetkan kulit ular dengan menggunakan pengeringan sinar matahari. Hal ini pastinya akan terlihat lebih natural.

Caranya yaitu dengan membersihkan kulit terlebih dahulu kemudian merentangkannya pada sebuah kerangka. Pakulah sekeliling kulit tersebut dengan bentuk yang simetris. Namun, untuk mengeringkannya diusahakan pada saat matahari terik kulit tersebut tidak dipanaskan secara langsung.

Jika dipanaskan secara langsung maka akan lebih mudah rusak karena sinar matahari terlalu panas. Oleh sebab itu, harus ada kain atau penghalang yang digunakan untuk menahan sinar matahari. Untuk sinar matahari yang baik pada pukul 08.00 – 11.00 serta 15.00 – 17.00. 

Untuk proses pengeringannya sendiri terdapat beberapa cara yang bisa dilakukan seperti pengeringan di atas tanah, pengeringan di pentang, pengeringan di atas tali atau kawat, hingga pengeringan yang berbentuk seperti tenda atau payung.

Biasanya terdapat uap yang tidak bisa keluar dari permukaan kulit sehingga terjadi cacat produk. Beberapa cacat produk dikenal sebagai blister, paint, hair sleep. Oleh karena itu, pengeringan dengan aliran udara yang bebas pada kulit bagian luar dan dalam sangat penting.

Untuk mengawetkan kulit ular maka Anda bisa melakukan pengeringan dengan cara sebagai berikut:

  • Kulit ular dicuci secara bersih menggunakan air.
  • Kemudian, timbang kulit agar mendapatkan berat yang sesuai.
  • Lakukan flashing atau menghilangkan sisa daging serta lemak, lalu cuci kembali dengan air bersih.
  • Rentangkan kulit di atas meja atau tempat yang datar agar bagian flesh menghadap ke atas.
  • Pentangkan pada frame dan angin-anginkan selama satu malam
  • Setelah satu malam terlewati, kulit bisa dijemur selama 14 hari atau sampai kulit kering menggunakan terik matahari.

Awal dari proses pengawetan tersebut menggunakan metode pengeringan dengan menggunakan sinar matahari yang didapatkan adalah kulit segar yang telah dibersihkan. Berat yang dikeringkan idealnya adalah 0,8 kg. 

Pementangan yang digunakan bisa berupa kayu dengan cara dilubangi pada bagian pinggir agar mendapatkan pengait berbentuk S. Jangan terlalu kencang atau kendor karena akan merusak kualitas kulit.

Dengan mengikuti beberapa langkah di atas maka dapat dipastikan bahwa bahan kulit ular Anda akan mendapatkan kualitas terbaik. Keawetannya bisa mempengaruhi kualitas dari bahan yang digunakan untuk produk kesayangan Anda.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments